Senin, 16 Februari 2026

Gerakan Sunyi, Perlawanan Cerdas Pada Penguasa

Di Tulis Oleh Editor 


In Frame Sha Mantha 


 

          

Jawa Tengah - Ketika tak ada lagi megaphone, tak ada pengerahan massa.

Namun perlawanan itu nyata, terjadi di 35 wilayah kota kabupaten, di Provinsi Jawa Tengah.

Semakin massif dan terus menembus jutaan kepala. 

Sejak Kamis, 12 februari 2026 

Kantor-kantor SAMSAT di seluruh kota di wilayah Provinsi Jawa Tengah.

Hingga hari ini, Senin 16 Februari 2026.

Mendadak sepi seperti lorong tua Lawang Sewu.

Saat lampu dipadamkan, nomor antrean menggantung tanpa disentuh, kursi plastik berjajar rapi, tetapi tak ada tubuh lelah yang duduk menunggu. 

Bukan karena libur nasional. 

Tetapi keputusan kolektif, Masyarakat menahan diri.

Hal tersebut bukan hanya terjadi di kota-kota besar di Provinsi Jawa Tengah, seperti Semarang, Solo, Pekalongan, Magelang, tetapi seluruh daerah di wilayah Jawa Tengah, berubah menjadi panggung epik. 

Seluruh Masyarakat di 35 kotak kabupaten wilayah Provinsi Jawa Tengah, secara terang-terangan, melawan Ahmad Luthfi selaku Gubernur Jawa Tengah yang menjabat sejak tahun 2025, dengan membuat sepi Kantor SAMSAT.

Gerakan sunyi rakyat Jawa Tengah makin terasa seperti arus bawah tanah. 

Tak terlihat, tapi menggerus. 

Mereka tidak turun ke jalan, tidak membakar ban, tidak memaki di bundaran. 

Hanya menunda bayar pajak kendaraan. 

Sederhana

Akan tetapi, dampaknya mampu membuat laporan pendapatan daerah megap-megap seperti sepeda tua yang menanjak di jalanan Gombel.

Yang lebih menohok, hampir tak terdengar buzzer berkicau. 

Biasanya cepat sekali muncul, menjelaskan, jika semua baik-baik saja, bahwa Rakyat salah paham, bahwa kebijakan ini demi masa depan cerah. 

Namun tidak kali ini

Pemberitaan nyaris senyap sunyi.

Entah karena tak ada peluru narasi yang cukup kuat, atau karena gelombang sunyi ini terlalu luas untuk dilawan dengan tagar.

Membaca fenomena ini, mengingatkan saya pada sosok Mahatma Gandhi yang berhasil Membawa Perubahan Besar di India pada awal abad ke-20 Masehi.

Tatkala Imperium Inggris berdiri seperti raksasa baja, berikut persenjataan lengkap, armada kuat, disertai administrasi rapi. 

Lalu datang seorang kurus bersandal butut membawa gagasan yang tampak sederhana.

"Jangan beli produk Inggris. Jangan tunduk pada garam monopoli mereka. Pintal kain sendiri. Pakai produksi sendiri." 

Maka mesin pintal charkha berubah dari alat rumah tangga menjadi simbol perlawanan. 

Itu bukan sekadar kain

Itu deklarasi perang tanpa peluru.

Dampaknya luar biasa dahsyat. 

Inggris tidak dihantam meriam, tapi dipukul oleh penolakan kolektif. 

Ekonomi kolonial goyah. 

Moral penjajah terkikis. 

Hingga Dunia pun menoleh. 

Dari tindakan yang terlihat “lemah." 

Lahir gerakan yang mengguncang imperium terbesar saat itu. 

Senyap dan mematikan.

Lantas apa kaitannya dengan Jawa Tengah? 

Rakyat sedang menunjukkan, bahwa kekuatan tidak selalu berwujud kerumunan. 

Kadang ia berupa dompet yang tidak dibuka. 

STNK yang tidak diperpanjang.

Dan Ini bukan makar.

Ini pesan. Pesan, Pajak adalah amanah, bukan cek kosong tanpa pertanggungjawaban.

Jika penguasa menganggap ini remeh, sekadar keluhan dunia maya, maka sejarah sudah memberi contoh betapa berbahayanya meremehkan gerakan diam. 

Ketika Rakyat memilih menahan diri secara kolektif, itu artinya ada batas kesabaran yang telah disentuh.

Gerakan sunyi ini masih sopan. Masih tertib. Masih dalam koridor hukum penundaan. 

Tapi ia membawa satu peringatan keras, jangan abaikan jeritan yang tak terdengar. Jangan kira karena tak ada teriakan di jalan, maka semuanya baik-baik saja.

Kepercayaan bukan janji, tetapi bukti.

Tanpa pembuktian, maka keheningan Rakyat terus bergema, tak bisa dibungkam oleh Baliho, Razia, Bansos, maupun Pidato manis manapun.

Sebab sejarah selalu kejam pada Penguasa tuli.

Kekuasaan tanpa kepercayaan, hanya bangunan kosong. 

Megah di luar, rapuh di dalam.

Jika sunyi kian mencekam, Ia dapat berubah menjadi gelombang Nasional.

Bukan untuk merobohkan Negara, melainkan sebagai pengingat.

Sepanjang Pajak Rakyat terlalu sering bocor di lorong KORUPSI.

Selama Penguasa belum berani berdiri di hadapan Publik, dan bersumpah bukan sekedar di atas kertas, bukan hanya tanda tangan di

atas kertas.

Melainkan sungguh - sungguh menjaga Marwah dari sumpah, tak menyentuh uang Rakyat untuk kepentingan Pribadi.



Gerakan Sunyi, Perlawanan Cerdas Pada Penguasa

Di Tulis Oleh Editor  In Frame Sha Mantha                Jawa Tengah - Ketika tak ada lagi megaphone, tak ada pengerahan massa. Namun perlaw...