Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Maret 2026

MENTAL "TUAN" DI BALIK MEJA LAYANAN

 Ditulis oleh editor 


In Frame Sha Mantha 
Photo Taken Sohan Photography 





Jawa Tengah - Aplikasi pelayanan publik ("Super Apps"), kian menjamur di mana-mana, di era digital saat ini, disertai gedung-gedung Pemerintahan yang semakin megah. 

Namun, di balik kilap kaca gedung dan canggihnya teknologi, ada satu hantu tua yang masih bergentayangan di lorong-lorong instansi: Birokrasi Feodal.

Sistem ini adalah anti-tesis dari demokrasi. 

Ketika konstitusi mengatakan "kedaulatan ada di tangan rakyat", birokrasi feodal justru mempraktikkan "kedaulatan ada di tangan pejabat". 

Ini bukan sekadar masalah administrasi; ini adalah penyakit kronis yang menggerogoti tata kelola pemerintahan dari dalam.

Anatomi Penyakit: Ketika Pelayan Merasa Jadi Raja.

Birokrasi feodal bukan sekadar istilah sejarah. 

Ia hidup dalam bentuk hierarki kaku yang mencekik. 

Dalam sistem ini, seorang pejabat tidak dilihat sebagai pemegang amanah publik, melainkan sebagai "Bangsawan" baru.

Ciri utamanya sangat kasat mata: Orientasi Vertikal. 

Mata para birokrat tidak tertuju ke bawah (Rakyat), melainkan mendongak ke atas (Penguasa). 

Prinsip kerja bukan lagi soal profesionalisme atau meritokrasi, melainkan Asal Bapak Senang (ABS).

Karl Marx pernah menyindir pola ini. 

Di mana birokrasi menjadi "lingkaran ajaib" yang tak tersentuh. 

Di Indonesia, kita melihatnya dalam budaya ewuh pakewuh/sungkan, yang salah tempat. 

Loyalitas bukan diberikan pada aturan atau hukum, melainkan pada sosok "Bapak" atau "Ibu" pimpinan. 

Akibatnya, kritik dianggap pembangkangan, dan inovasi yang menantang kemapanan dianggap ancaman.

Budaya Patron-Klien: Racun Nepotisme

Salah satu dampak paling merusak dari feodalisme birokrasi adalah suburnya hubungan Patron-Klien.

Dalam sistem yang sehat, seseorang naik jabatan karena kompetensi (meritokrasi). 

Dalam birokrasi feodal, seseorang naik jabatan karena kedekatan. 

Pejabat (Patron) memberikan perlindungan dan posisi kepada bawahan (Klien), dengan imbalan kepatuhan buta dan dukungan politik.

Inilah rahim yang melahirkan Nepotisme. 

Kompetensi menjadi nomor dua; yang utama adalah "siapa orang dalammu". 

Ketika hubungan personal lebih kuat daripada aturan formal, maka keadilan bagi publik hanyalah ilusi. 

Rakyat yang tidak punya akses "orang dalam" akan selalu berada di antrean paling belakang.

Harga Mahal yang Harus Dibayar

Mengapa kita harus peduli?

Karena birokrasi feodal adalah penghambat terbesar bagi kemajuan bangsa.

* Matinya Inovasi

Birokrat feodal lebih nyaman dengan rutinitas. 

Perubahan dianggap mengganggu kenyamanan penguasa. 

Akibatnya, pelayanan publik jalan di tempat.

Korupsi yang Dinormalisasi: Sebab fokusnya melayani atasan (bukan aturan), penyimpangan anggaran demi memuaskan "Tuan" dianggap wajar.

 * Ketimpangan Sosial

Negara hanya hadir bagi mereka yang punya status atau koneksi.

Jalan Keluarnya hanyalah Revolusi Kultural, Bukan Sekadar Digital.

Membangun gedung baru atau meluncurkan aplikasi online tidak akan membunuh feodalisme jika mental manusianya tidak diubah. 

Solusinya harus radikal

 * Pangkas Hierarki

Struktur yang terlalu berlapis harus dipangkas agar pejabat turun dari menara gadingnya.

 * Meritokrasi Tanpa Kompromi

Hapus budaya urut kacang dan kedekatan personal dalam promosi jabatan.

 * Transparansi Total

Buka ruang bagi publik untuk mengawasi kinerja, sehingga birokrat sadar bahwa "Tuan" mereka yang asli adalah rakyat, bukan atasan mereka.

Sudah terlalu lama kita membiarkan mental "Tuan-Bawahan" ini bercokol. 

Saatnya mengembalikan birokrasi ke khittahnya: melayani, bukan minta dilayani.



Minggu, 01 Maret 2026

Matinya Rasa Malu Garong Uang NEGARA

 Ditulis oleh editor 


In Frame: Sha Mantha 




Jakarta - Pemerintah saat ini telah meletakkan dasar hukum yang berbahaya.

Kita tidak sedang menuju Peradaban Hukum yang lebih manusiawi. 

Kita hanya sedang belajar mundur menuju era Korupsi menjadi kejahatan yang lebih sopan.

Ketika para Pejabat Negara mulai tidak dapat dipercaya. 

Mereka bersekutu dalam satu barisan, merampok uang Rakyat untuk melanggengkan suatu kekuasaan.

Menciptakan jarak antara Pemerintah dan rasa keadilan Masyarakat kian terpaut.

Tanpa moral sebagai batas, kekuasaan cenderung culas, manipulatif, sekaligus berbahaya bagi "Keadilan serta Kemanusiaan." 

Sehingga tidak ada ketegakan hukum serta keadilan di suatu Negeri.

Manakala citra buruk diharumkan, orang baik dan jujur dimusuhi.

Mengorbankan kebenaran untuk kepentingan, kelanggengan kekuasaan.

Tetapi juga, jangan sampai definisi orang jahat, "jadi bola liar" yang membungkam suara kebenarannya.

Dan bisa jadi pertanda sebuah Negara akan bubar.

Jika tanah Rakyat dirampas paksa, pajak terus menerus dinaikkan, dan hukum dijadikan alat permainan penguasa. 

Itu bukan lagi Negara hukum. 

Itu panggung opera kekuasaan

Rakyat dipaksa bertepuk tangan, sementara keadilan dikunci di belakang panggung layar.

Negeri pandai merawat lapar, tetapi gagap menyelaraskan akal.

Negara yang sehat, bukan terletak pada kepatuhan seluruh warga Negaranya, melainkan di Pemimpin yang tahan uji.

Dalam Politik, batas antara "Polisi yang tegas" dengan "Penguasa anti-kritik" kerapkali setipis benang.

Namun Rakyat butuh penangkal bahaya laten inkompetensi.

Sebab integritas membutuhkan intelektualitas.

Dan Masyarakat perlu mengevaluasi cara pandang mereka dalam memilih Pemimpin.

Orang baik saja tidak cukup, kita memerlukan orang baik yang cakap.

Korupsi tidak selalu lahir dari dari niat jahat Pemimpinnya, namun acapkali muncul dari ketidakmampuan seorang Pemimpin dalam menciptakan sistem anti-korup.

Melawan Korupsi bukan terpaku perihal menangkap begal, tetapi mencegah orang yang tidak kompeten memegang kemudi kekuasaan.

Pada akhirnya, inkompetensi menjadi pintu gerbang dan Korupsi sebagai tamu tak di undang yang masuk melaluinya.



Senin, 27 Januari 2025

Bela Negara; Lantas Dosa Negara Siapa Yang Tanggung?

 

       Ditulis oleh editor


Photo Taken by Lawerrisa 

          In Frame Sha Mantha  

 

 




Jakarta - Indonesia adalah Negara penganut Sistem Demokrasi Modern.

Dimana kesemuanya merupakan hasil dari jerih payah keringat Rakyatnya sendiri.

Kami RAKYAT MANDIRI, memiliki sikap BANGSA berdikari, tidak bergantung pada apapun, kecuali hanya kepada Tuhan sajalah kita berserah.





 
Photo Taken by Fotografer Net INDONESIA 
PTPN Regional I Kec. Keling, Kab. Jepara 
Prov. Jawa Tengah - BUMN RI 



Badan Usaha adalah Milik Rakyat Indonesia 

Namun kesetaraan tidak selalu adil ketika Negara mengklaim dan mengambil haknya dengan menggunakan pandangannya sendiri hingga menyulitkan hidup RAKYAT.

Masyarakat mengalami ketergantungan kepada Negara dan Negara memenuhi kebutuhan hidup Rakyatnya dari berhutang, kemudian hutang-hutang tersebut dibebankan kembali pada Rakyat.

Dalam Pasal  33  ayat (1) UUD 1945 

Telah menegaskan bahwa

"Perekonomian disusun sebagai  usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan"

Makna yang terkandung dalam ayat tersebut sangat  dalam, yakni sistem ekonomi yang dikembangkan seharusnya bukan basis  persaingan, serta atas asas yang sangat individualistik.

Demikian pula dalam Pasal 33 ayat (2) dan  ayat (3) UUD 1945

Telah memberikan maklumat  yang sangat terang-benderang

Bahwa Pemerintah, memiliki peran yang  sangat besar dalam kegiatan ekonomi.

Ekonomi bukan hanya dilakukan oleh Masyarakat, Swasta, maupun Individu, terutama pada cabang-cabang Produksi, yang  menguasai hajat hidup orang banyak.

Kemudian Bumi,  Air,  dan Kekayaan Alam, yang terkandung di dalamnya

Itu juga harus dikuasai oleh Negara, untuk  sebesar-besarnya kemakmuran Rakyat 

Selama ini juga telah terjadi Eksklusifisme Pembangunan.

Prinsip Partisipasi dan Emansipasi Pembangunan tidak ditegakkan, seharusnya dalam setiap kemajuan pembangunan, Rakyat harus senantiasa dibawa serta.

Kemajuan Ekonomi Rakyat, haruslah inheren dengan kemajuan Pembangunan Nasional seluruhnya.

Terlebih kekaguman terhadap yang serba Barat, menambah kekurang-waspadaan yang secara tidak langsung dengan semena-mena menggusur Rakyat kecil dan lemah.

Tujuan pembentukan UU ini adalah untuk menjunjung tinggi Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat.

Pembangunan Nasional haruslah dilakukan untuk tercapainya tujuan Nasional yaitu; 

Melindungi segenap Bangsa Indonesia dan Seluruh Tumpah Darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan Bangsa.

Sehingga fokus Pembangunan adalah Manusianya, bukan sekedar ekonominya saja.

Sehingga Perekonomian Indonesia harus di urus dan dikelola seperti apapun, wajib berpangkal pada usaha bersama dan berujung pada kesejahteraan sosial bersama.




Arsip Nasional
Ir Soekarno - Mohammad Hatta 
Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Ke -1 




Berakhirnya Orde Lama Mengubah Sistem Sosial Ekonomi 


Sistem Komunis menjadi ancaman bagi kaum Kapitalis yang sangat bernafsu, mengolah seluruh sumber daya alam Indonesia, sekaligus halangan bagi Kapitalisme untuk berinvestasi.

Dengan modal produksi dasar seperti Tanah dan Uang yang dimiliki secara individual oleh pemodal yang berasal dari keluarga-keluarga kaya dari Eropa.

Secara otomatis mengendalikan seluruh aktivitas ekonomi di Indonesia yang tentunya ditentukan oleh interaksi pembeli dan penjual dalam pasar.

Agar para pemilik modal dan pekerja, bebas mengelola modal dan sumber produksi lainnya untuk menghasilkan keuntungan maksimum dengan mengeruk kekayaan alam yang ada di Indonesia.

Sehingga otoritas Negara  dalam Ekonomi Indonesia menjadi sangat terbatas.

Maka Pasca Orde Lama Maret 1966

Ketika Orientasi pemerintahan saat itu sangat bertolak belakang dengan era sebelumnya.

Keberpihakan Pemerintah Orde Baru pada Barat dengan menjauhi Ideologi Komunis.

Secara otomatis turut memperbaiki Politik Indonesia dengan negara-negara Barat, sehingga memudahkan arus Modal Asing kembali masuk ke wilayah Indonesia, khususnya PMA.

Sebagai akibatnya, hutang luar negeri mulai meningkat.

Keadaan ini tak ubahnya membangunkan kembali VOC yang telah lama bangkrut di era Perang Diponegoro abad 19 ( 1825 ) lalu.

Menjelang awal tahun 1970-an

Berdasar kerja sama dengan Bank Dunia

Dana Moneter Internasional (IMF)

Bank Pembangunan Asia (ADB), dibentuk suatu konsorsium Inter-Government Group on Indonesia (IGGI) yang terdiri atas sejumlah negara industri maju termasuk Jepang untuk membiayai pembangunan di Indonesia.

Situasi inilah kemudian yang membuat Negara Indonesia telah dianggap menggeser Sistem Ekonomi yang awalnya lebih banyak dikendalikan oleh Negara ( Sosialisme ) dan perlahan-lahan menjadi Semi Kapitalisme.

Tak ayal Sistem Sosial Ekonomi bagai Neraka di muka Bumi.

Di negeri kaya ini, ancaman pengangguran merupakan beban berat yang menggelayut pundak kaum muda.

Saat krisis ekonomi seakan merantai jutaan umat Manusia ke dalam penjara pengangguran, hingga hari ini.

Pada akhir 1980-an dan awal tahun 1990-an

Sistem Ekonomi Indonesia terus mengalami pergeseran.

Ketika sebuah mainstream Sistem Ekonomi telah dipilih dan DIPAKSAKAN  kepada Negara ini.

Akibatnya mulai bermunculan banyak issue di  Pemerintahan Orde Baru saat itu yang dianggap telah gagal dalam mengalokasikan sumberdaya Ekonomi untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan Ekonomi, baik yang berasal dari eksploitasi sumberdaya alam maupun hutang luar negeri.

Tetapi Negara Mengkhianati Ibu Pertiwi

Ketika justru memilih tinggal dan tumbuh bersama Liberalisme.

Sistem Liberal yang menempatkan media massa sebagai alat kepentingan Kapitalis, memudahkan suatu kepentingan sekaligus alat paling cepat dan tepat sasaran dalam menyusun rencana propaganda yang telah disiapkan untuk merobohkan rumah NEGARA INDONESIA, memporak-porandakan seluruh isi didalamnya.

Sebab negara Indonesia adalah Partisan Pemilu yang tidak menyadari jerat-jerat Oligarki.

Amanat Konstitusi jadi solusi bunuh diri  yang secara brutal melakukan pembelaan masing-masing kelompoknya, korban Partai Politik yang memperbudak Rakyat.

Dimana Agama dan Komunis

Menjadi konsep Kapital - Liberalisme, yang selalu digunakan sebagai pengalihan issue, dan masalah akan selesai.

Maka siapapun yang berkuasa, issue komunis dan agama akan selalu ada, sebagai alat propaganda bagi Pemerintah, untuk mengadu domba rakyatnya sendiri.

Hal itu dibuat oleh Negara untuk merangsang Rakyatnya sendiri hingga klimaks, kemudian  dibumihanguskannya sendiri sebagai bentuk pembodohan terhadap masyarakat.




Organisasi Masyarakat dan Lembaga Swadaya Masyarakat 



Tidak cukup sampai disitu

Negara kemudian memperalat jutaan Organisasi Masyarakat dan Lembaga Swadaya Masyarakat yang mengatasnamakan agama.

Hal tersebut dilakukan untuk menarik dan menampung anggaran yang sudah tentu akan terus menerus masuk ke petugas Keamanan Negara.

Ya... Begitu mudahnya mengelabui kesadaran POLITIK di tubuh Rakyatnya.

NEGARA pada akhirnya menjadikan orang miskin sebagai Komoditi Partai Politik.

Kehidupan kemudian diatur oleh orang-orang Partai Politik, sebagai modal propaganda Partai Politik di setiap pemilihan umum 5 tahun sekali.

Sehingga kemiskinan di Negara Indonesia tidak akan pernah di-entaskan.

Sebab dari kemiskinan Rakyat, terdapat peluang untuk membuat janji Partai Politik dengan membuka fasilitas kepada masyarakat.

Partai Politik yang berdiri diantara satu kaki, ketika satu Kaki kepentingan Partai dan Satu kaki Untuk kepentingan Rakyat, tak lebih dari ajang pasar dagang yang ditawarkan dengan cara berteriak-teriak setiap 5 tahun sekali.

Sehingga kemiskinan tidak akan pernah dientaskan di Negara ini, karena menjadi alat propaganda pemilihan umum setiap lima tahun sekali oleh Partai Politik Indonesia.

Semua partai politik di INDONESIA menjalankan instruksi pemodal dan seperti budak.

Jadi apakah Partai Politik di Indonesia masih bisa relevan dengan pekerjaan zaman modern seperti ini?

Jika faktanya Partai Politik budak dari Sistem Kapitalisme, budak dari gaya hidup, budak dari Sistem Pemerintahan Oligarki.

Karena sistem pemilu dengan Parlementary Treshold dan President Treshold, hanya memungkinkan Partai-Partai, serta Siapa-Siapa yang boleh duduk di lingkar kekuasaan, baik di Eksekutif maupun Legislatif, semua atas selera OLIGARKI.

Siapapun Presidennya akan tidak berdaya pada KEPENTINGAN OLIGARKI daripada memenuhi KEPENTINGAN RAKYAT secara keseluruhan.




Presiden Republik Indonesia ke-8
Periode 2024-2029 - Periode 2029-2034
Prabowo Subianto 




Bahkan jika kita bicara PEMILU 2024/PILKADA saat ini, maka sampai detik ini, tidak ada INDIKATOR yang mengindikasikan bahwa: HASIL PEMILU 2024, BUKAN BONEKA OLIGARKI lagi.

Itulah masalah NKRI saat ini

Sebab tak memiliki FORMULA TERBAIK untuk MEMERDEKAKAN NKRI dari JAJAHAN OLIGARKI.

Dimana Kesetaraan Politik dalam Demokrasi Liberal adalah omong kosong.

Ir. Soekarno hingga Tan Malaka, berikut tokoh Kemerdekaan RI yang lain, telah secara tegas menentang Demokrasi Liberal.

Mengapa?

Demokrasi Liberal hanya memberi kesetaraan Politik, itupun semu, sementara kesetaraan dalam ekonomi tidak dilakukan.

Dampak dari ketidaksetaraan ekonomi membuat kaum kaya raya melangkah ribuan kali didepan kaum melarat, saat ajang Pemilu.

Hal ini yang membuat sekitar setengah anggota DPR RI adalah kaum Pengusaha.

Kesemuanya kesetaraan Politik dalam Demokrasi Liberal, hal ini juga dapat dilihat pada anggota keluarga sang Presiden, satu persatu dinaikkan ke dalam tampuk kekuasaan, sebelum Ia lengser.

Hal yang sama tak akan pernah dilakukan pada kaum buruh dan tani, atau kelas pekerja manapun, kecuali mereka bersatu membentuk kekuatan Politik secara bersama-sama.




Merah Putih Periode 2024-2029




Dan bila Politik berhenti pada hingar bingar merebut kekuasaan saja, maka Ekonomi Kerakyatan hanyalah kembang api dari panggung ke panggung, membuncah lalu padam di ruang  pengambilan kebijaksanaan strategis dan penting. 

Hal ini merupakan perdagangan isi kepala yang lebih berbahaya dari Politik membeli suara.

Tahun 2001

Industri Perbankan tumbuh cepat, disertai transaksi pesat hutang luar negeri perusahaan-perusahaan swasta, mewarnai percaturan ekonomi Indonesia saat itu.

Pasca krisis moneter, memasuki era Reformasi, ternyata kebijakan perekonomian Indonesia tidak bergeser sedikitpun dari pola sebelumnya.

Ironinya justru semakin Liberal

Pemerintahan Indonesia mengikuti garis-garis yang telah ditentukan oleh IMF menuju Libelarisasi Ekonomi.

Ketika ternyata Reformasi atau perubahan dilakukan setengah hati, dan perubahan-perubahan setengah hati itu, bernama Reformasi, sehingga yang terjadi; Reformasi kemudian di Korupsi.

Orde Baru berhasil digulingkan dengan cara yang sangat memalukan namun borok dan penyakit yang telah diamputasi, menimbulkan masalah baru.

Fase paling tragis dari Revolusi Mental di tubuh Pemerintah Indonesia, bukan saja mengalami kemunduran mental. 

Ketika pada 05 Oktober tahun 2020 lalu berubah menjadi hari duka sekaligus penghianatan. 

Simbol atas matinya hati nurani para Dewan Perwakilan Rakyat INDONESIA, terhadap Rakyat Indonesia dengan disahkannya UU Omnibus Law sebagai Undang-Undang di tengah kondisi negeri yang sedang sakit. 

Pemerintah Indonesia tidak mementingkan keselamatan jiwa rakyatnya dengan mengesahkan UU yang mengalami cacat formil. 

Setelah UU disetujui 

Pemerintah lalu mengubah isi dari (substansi) UU

Tujuan UU tersebut dibuat tak lebih untuk melegalkan dikte Superior agar Pemerintah memegang kuasa penuh terhadap seluruh sentralistik, ketimbang kekuasaan Legislatif Yudikatif dengan mengambil paksa wewenang pemerintah daerah.

Dengan menempatkan seluruh tatanan kehidupan kedalam UU perbudakan di setiap sektor aturan berskala besar.

Rakyat menjerit

Usulan mereka ditolak tanpa ditimbang dan suaranya dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan.

Tak ayal terjadilah Rakyat MELAWAN

Pemerintah yang melacur kepada Ko'orporat menerobos paksa menunggangi Demokrasi merangsang Vandalisme hingga Rakyatnya klimaks.

Dan lagi- lagi "Issue hoax" didengungkan oleh negara yang tak malu-malu lagi menganut paham Liberal.

Terlanjur menikmati; Mereka yang Pro Pemerintah berlarian mencari aman

Terbawa arus nafsu yang secara bergiliran, memperkosa BANGSA INDONESIA, melalui pembahasan UU yang tidak transparan. 

Keadaan yang kian menjerumuskan NEGARA ini kepada " Sistem Salah-Demokrasi bermasalah" dengan menjajah Rakyatnya sendiri.

Undang-undang Republik Indonesia telah menjadi bawahan Pancasila. Pondasi yang kemudian dijadikan pertaruhan serta diatur oleh Undang-Undang Dasar 1945.

Jika UUD-45 kepada yang asli, maka semua produk hukum pasca amandemen akan

Partai, akan Bubar.

Bahkan rezim ini di misioner ( di non-aktifkan ) demi hukum.




Presiden Republik Indonesia ke-8 Prabowo Subianto 




Resafel 100 hari kerja, terlewati Januari 2025 

Tetapi Presiden Prabowo Subianto Djojohadikusumo masih sebatas menggunakan teks Pidatonya sebagai wacana menuju Indonesia emas yang terlalu lama ( tahun 2045 ).

Sedangkan untuk segera sampai pada tujuan tersebut, hanya sistem Tata Negara; 

"SISTEM SOLUSI NASIONAL "TRISULA WEDHA" yang dapat melakukannya.

Tanpa Sistem Trisula Wedha

Presiden Prabowo Subianto Djojohadikusumo, tidak akan sampai pada tujuan dan cita - cita mulia BANGSA INDONESIA.

Sedangkan dibutuhkan sosok Revolusioner untuk menuju ke sana.




Revolusioner Sistem Tata Negara TRISULA WEDHA

Hariono Soeharyo Notonegoro 

 




Maka artinya, bagi seluruh umat manusia di dunia; wajib ter-awali oleh seluruh Bangsa Indonesia.

Jika menginginkan perubahan drastis dan lebih bagus dari keadaan sekarang, menuju Mercu Suar Dunia dan Tauladan Global.




Presiden Republik Indonesia ke-8 Prabowo Subianto 




Terdapat 3 pertanyaan bagi pimpinan Negara yang bersedia memimpin NKRI menuju Mercu Suar Dunia.

Jika Pimpinan Negara adalah sosok Negarawan Palsu, yang tidak Nasionalis dan tak tau Tata Negara serta tak berpihak pada Rakyat, maka tidak akan dapat menjawabnya.

Akan tetapi, sebagai Pemimpin Negara Sejati 

Presiden Prabowo Subianto

Tentunya tidak bermain - main dengan Bangsa dan Negara Republik Indonesia.

Sehingga sudah pasti mampu melaksanakan dan menjawab, 3 pertanyaan dari Sistem Trisula Wedha dibawah ini:

1. Bagaimana sistem mengunci keburukan Moral WNI se-Dunia, untuk menetapkan aturan Undang-Undang dan Hukum Negara :

"Yang bisa berakibat hilangnya Budaya Suap dan Korupsi, serta mensejahterakan Nasional lebih baik dari sekarang"

2. Bagaimana sistem mendudukkan Rakyat sebagai Tuan Negara /Raja di Negara ini:

"Yang bisa berakibat mengangkat nama Bangsa dan Negara termasyhur dan dihormatinya oleh seluruh abdi Negara serta Bangsa-Bangsa di seluruh Dunia"

3.  Bagaimana sistem melaksanakan aturan UUD'45 Pasal 33 sesuai dengan isi dan artinya: 

"Yang bisa berakibat naiknya nilai Mata Uang Rupiah dan berdirinya Ekonomi di tangan seluruh Rakyat Indonesia'










Banyak yang menganggap bahwa TRISULA WEDHA, berbeda dengan filosufi PANCASILA serta tidak selaras dengan ajaran agama.

Di Indonesia

Banyak masyarakat pintar yang senang menghafal suatu ajaran tanpa mau berfikir, menggunakan akal nalar dan nyata dalam kehidupan.

Perlu diketahui

Dalam isi Pancasila, kesemuanya telah terwakilkan lebih dalam, apabila diaplikasikan arti yang sebenarnya, dalam filosufi Trisula Wedha.

Maka filosufi tersebut sudah benar sehingga dapat digunakan dalam kehidupan seluruh umat di dunia, yaitu:

LURUS

Seluruh Warga Negara Indonesia, wajib yakin dan percaya, adanya; Yang Maha Kuasa, dimanapun berada, di dunia ini.

Sehingga muncul jiwa kemanusiaan yang beradab dan jiwa-kasih sayang yang tinggi.

BENAR

Seluruh Warga Negara Indonesia, wajib menjalankan aturan; 

Undang Undang dan Hukum Negara, dimanapun berada, di dunia ini.

Sehingga mampu meninggalkan jiwa-jiwa jahat dan hal-hal, yang bisa menyusahkan Bangsa dan Negara dimanapun berada, di dunia ini, dan

JUJUR

Bagi setiap Warga Negara Indonesia, wajib menjalankan Rasa Kejujuran, untuk Membangun Kemitaraan Dalam; Gotong Royong Ekonomi; Perjodohan dan Rejeki, dimanapun berada, di dunia ini.

3 hal tersebut diciptakan, dalam aplikasi membangun Tata Negara Baru; yang dibutuhkan oleh Bangsa dan Negara Indonesia.

Untuk bersaing menghadapi Dunia Kapitalisasi saat ini

Presiden Republik Indonesia selaku Negarawan sekaligus Pemimpin tertinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia, tentu mampu  "Membangun" kepribadian Nasional dan Memakmurkan Rakyat.

Melalui pengaplikasian Sistem Solusi Nasional "TRISULA WEDHA"

Sehingga tidak perlu menunggu hingga tahun 2045 untuk mewujudkan Indonesia Emas.

Dalam istilah KOMPUTER dijelaskan bahwa;

Tata Negara Sejati- Mewajibkan Sosok Pemimpin Negara yang harus mampu menghayati Jiwa Pemimpin yang berwatak Pendeta /Wali / Nabi.

Dan menguasai filosufi HASTABROTO ( 8 sifat alam ) untuk bertauladan yang disebut SOFTWARE dan mengaplikasikan sifat-sifat Ksatria ber-filosufi dalam sistem TRISULA WEDHA sebagai HARDWARE.PUSAKA TRISULA WEDHA.

Dan merupakan suatu sistem Tata Negara, khususnya bagi Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sedangkan sepanjang 75 tahun lamanya

Bangsa ini berusaha mewujudkan cita-cita- bertumpu pada PANCA-SILA, yang dibentangkan hingga datang masa pencapaian Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. 


"Revolusi Masih Belum Selesai"

         --- Soekarno-Hatta ---


Tentu telah tiba waktunya bagi BANGSA ini bebas mengambil keputusan sendiri.


INDONESIA adalah negara cadas

Korupsi merajalela dan tidak pernah ada Revolusi Mental, dimanapun itu, selain Pemerintahan demi Pemerintahan baru yang sudah disiapkan untuk mengunyah semua yang ada, didalam Negeri.

Sumber dari segala biang masalah persoalan Bangsa Indonesia dari kerusakan dahsyat tata kelola Pemerintahan, sumber daya alam, hutang tinggi, korupsi disegala bidang Kementerian dan Swasta dari pusat hingga daerah, dunia pendidikan hingga Negara hukum dijadikan sebagai Negara Kekuasaan.

Banyak pejabat publik menampilkan citra sederhana, demi meraih simpati Rakyat.

Mereka berbusana biasa, makan di warung, dan berbicara dengan bahasa merakyat.

Namun, di balik kesan bersahaja

Kerapkali tersembunyi jejak Korupsi, Penyalahgunaan Kekuasaan dan Praktek Kolusi yang merugikan Negara dan Bangsa.

Kesederhanaan mereka bukan cerminan Moralitas, melainkan strategi Politik untuk menutupi kerakusan kekuasaan.

Tentu Rakyat perlu lebih waspada, lebih kritis, tidak mudah tertipu oleh Pencitraan semu.

Menilai pejabat berdasarkan rekam jejaknya, integritas serta kebijakan nyata, bukan sekedar tampilan luar yang terlihat santun dan sopan, sederhana tetapi penuh kepalsuan dan kejahatan.

Maka berlakukan hukum martir bagi Koruptor. 

1. Berjalan merangkak sepanjang 500 meter di atas pecahan batu kerikil menggunakan kedua tangan yang bertumpu di kedua lutut dengan leher terikat tali tambang yang dikaitkan dengan besi runcing diatas punggung Koruptor.

2. Masukkan Koruptor ke dalam sebuah ruangan berukuran sempit kemudian gembok pintu dari luar dan adu dengan Seekor Anjing Pelacak.



Kunci Moral WNI di Seluruh Dunia Dengan Kartu Identitas Tunggal Nasional 




Design Bagian Depan dan Bagian Belakang 
Kartu Identitas Tunggal Nasional 




Fungsi serta design dari Kartu Identitas Tunggal Nasional dibuat oleh Hariono Soeharyo Notonegoro sejak mula-mula ditujukan untuk mengunci keburukan moral Warga Negara Indonesia yang menjadi problem Vital di wilayah Republik Indonesia. 

Akan tetapi Sistem KITNAS justru di ganti sebagai sumber inspirasi E - KTP biasa, yang sistemnya tidak sama dengan KITNAS di era Presiden Republik Indonesia ke-6 Soesilo Bambang Yudhoyono ( Periode 2004-2014 ).

Bisa jadi ;

Moral kami terbukti Lurus; lebih Patuh dan taat Hukum dari Elite Penguasa; tentu hidup berbudi pekertilah, kami bukti nyata; Jujur dan lebih ber-adab dari kaum Elite Penguasa.

Tetapi yang pasti, hanya ada pada seluruh IT INDONESIA; andai tak di operate secara manual oleh jaringan IT yang sama, maka Pemerintah INDONESIA tidak akan pernah bisa mengunci Jaringan Identitas Warga Negara Indonesia, diseluruh Dunia.




Sistem Jaringan Pengunci Moral WNI di Dunia 




Manfaat Kartu Identitas Nasional

"Sistem Solusi Nasional-TRISULA WEDHA"


1. Pengunci Moral WNI di Seluruh Dunia

2. Mengendalikan Peredaran Jaringan Bisnis Narkotika di seluruh Dunia

3. Mengendalikan Masuknya Warga Negara Asing ke Wilayah INDONESIA 

Sehingga Setiap WNA wajib Memiliki KITNAS

Tujuannya

Untuk Mengontrol Kepemilikan Akun Bank serta keluar masuknya uang, setiap WNA di wilayah Negara INDONESIA, terutama The Rotschilds and The Rockfeler Families

4. Mengunci Moral Seluruh Umat Manusia di Dunia

5. Menjadikan Negara INDONESIA-Kemudi MERCUSUAR DUNIA 

6. Mengatur Stabilitas Keamanan di Dalam dan Luar Negeri

7. Memakmurkan Perekonomian Seluruh Bangsa INDONESIA di Penjuru Dunia


Semua kembali pada sumber daya masyarakat Indonesia.

Apabila jiwa Patriotis- Nasionalisme dimiliki oleh segenap Masyarakatnya, betapa mudahnya membangun Bangsa Indonesia sampai kepada masyarakat martil menuju perubahan BANGSA yang lebih baik.

Dengan bergotong royong dan bersatu dalam perbedaan, sebagai nafas hidup masyarakat luas di Indonesia yang kemudian dipatenkan menjadi produk yang ideal bagi Bangsa, dengan ribuan suku yang diberi nama PANCA-SILA dan dilembagakan sebagai dasar negara Republik Indonesia.

 

Minggu, 06 Oktober 2024

INDIKATOR

 Di Tulis oleh Editor 


In Frame Sha Mantha

                                   Photo Taken by Ruang Kosong 303 

 
 

 

Adakah dari Rakyat terdidik di Indonesia yang bisa mendapat solusi atas jerat Oligarki di NKRI?

Jika setiap proses yang berjalan, pasti menyajikan PERUBAHAN INDIKATOR.

Dari setiap INDIKATOR, kita akan mendapatkan acuan arah trend ke depan untuk sesuatu yang akan terjadi.

Sehingga akan didapatkan akurasi dari suatu estimasi.

Jika kita bicara PEMILU 2024 / PILKADA saat ini, maka sampai detik ini, tidak ada INDIKATOR yang mengindikasikan bahwa; HASIL PEMILU 2024, BUKAN BONEKA OLIGARKI LAGI.

Demikian hal dengan Pilkada yang akan terjadi saat ini.

Itulah masalah NKRI saat ini

Sebab tak memiliki FORMULA TERBAIK untuk MEMERDEKAKAN NKRI dari JAJAHAN PARA OLIGARKI.

Walaupun lewat proses penggantian kepemimpinan bernama PEMILU ataupun Pilkada ditingkat Daerah /Provinsi.

SIAPA PUN KANDIDAT yang TERBAIK dari yang TERBURUK di NKRI.

AKAN TETAP MASUK JEBAKAN SISTEMATIS OLIGARKI yang SUDAH TEREGULASI dan TERKONSTITUSI.

Selama SUARA KPU di ATAS SUARA RAKYAT.

Selama KEKUASAAN cuma modal SUARA KPU yang di stempel legalisasi Mahkamah Konstitusi.

Selama PARTAI BERKUASA DI EKSEKUTIF juga BERKUASA DI LEGISLATIF dan di YUDIKATIF.

Selama MEDIA MAINSTREAM MILIK PARA OLIGARKI tetap MENDOMINASI KEPASTIAN antara yang BENAR dan HOAX.

Padahal cuma menyajikan BERITA PEMBENARAN.

Selama HUKUM masih TEBANG PILIH dan masih dijadikan sebagai alat Pemecah belah RAKYAT.

Selama AMANDEMEN UUD'45-2002 masih diterapkan.

Selama GBHN dan REPELITA-PELITA masih ditiadakan.

Selama OKNUM-OKNUM BUSUK, para POLITIKUS binaan ORBA, para JENDERAL, para ULAMA, para JURNALIS, para PENEGAK HUKUM, para KONGLOMERAT, para PETINGGI ASN didikan ORBA, membentengi di BELAKANG, SAMPING dan DEPAN ERA saat ini.

Selama itu pula Indonesia

BELUM MEMILIKI INDIKATOR PROSES PERBAIKAN bagi KEDAULATAN dan KEMERDEKAAN DE FACTO NKRI.

KEKUASAAN NKRI MASIH DIKANGKANGI PARA CUKONG RAKUS yang ANTI BERBEDA dan ANTI BERBAGI.

Sehingga KEKUASAAN POLITIK jadi KEKUASAAN SATU KOMANDO yang lebih militer dari pada militer yang sesungguhnya.

Artinya saat ini, CALON cuma indikator euforia sesaat, belum jadi indikator INDONESIA BARU. #Pembangkang_yang_manis 



Selasa, 09 Juli 2024

Kau Bawa Kemana Nuswantara?

Ditulis oleh Editor 



 

In Frame Sha Mantha 
Photo Taken Lawerrisa



 



INDONESIA - Sejak ratusan tahun silam, Nuswantara dipegang oleh dinasti kerajaan dan telah berhasil menjadi Negara keemasan.

Namun dengan datangnya penjajah Kolonial Belanda dan Jepang, dinasti kerajaan telah usai dibawah naungan Negara Republik Indonesia, sejak era Ir. Soekarno, hingga Ir. Joko Widodo, saat ini.

Aturan hukum Undang-Undang Dasar 1945, tidak dijalankan sesuai aturannya, namun justru telah dirubah oleh pejabat-pejabat Negara, yang tidak bertanggung jawab.

Rakyat menangis, memiliki pemimpin yang tidak dapat mensejahterakan hidupnya.

Nilai rupiah hancur dan saling tumpang tindih, oleh banyaknya pejabat yang korup, berikut jumlah hutang di Negara ke-3, yang terus membumbung, setinggi langit.

Jelas ini sangat membebani Rakyat 

Bagaimana Bangsa ini dapat memperbaiki kondisi Negara saat ini, agar dihormati oleh Dunia, sehingga kesejahteraan berbalik 180 derajat lebih baik dari saat ini, jika Negara ini bahkan tidak memiliki sistem sama sekali?

Sedang moral-moral pejabat, sangat buas dan jahat.

Bagaimana sistem mengunci keburukan moral warga negara di seluruh dunia, sehingga seluruh koruptor tertangkap dan mengembalikan uang yang dibawa lari ke luar negeri?

Sementara para Pejabat, masih begitu rakusnya menggerogoti uang Rakyat?

Semua wajib diberantas

Bagaimana Bangsa Indonesia dapat dihormati oleh dunia serta dapat mengontrol kekayaan seluruh Negeri, jika mengangkat warga Negaranya, sebagai TUAN NEGARA yang disegani oleh seluruh Pejabat saja pun tak mampu?

Sementara jika dilihat dari wajah Negara saat ini, sudah tidak ada lagi pilihannya, selain mengganti pemimpin Negara sebagai jalan akhir, dengan sosok nasionalis yang cerdas serta memiliki keberpihakan terhadap Rakyat.

Lantas bagaimana dapat mensejahterakan Rakyat, apabila aturan hukum Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33, tidak pernah dilaksanakan sistemnya?



NUSWANTARA GAGAH

 Ditulis Oleh Editor 


In frame Sha Mantha 
Photo Taken by Puguh Rata Widura




Indonesia - Hendak dibawa kemana Bangsa dan Negara ini?

Sedang Negara adalah sistem di atas masyarakat, yang mengatur masyarakat tanpa syarat, melalui kesetaraan, kerja sama, serta kasih sayang. 

Sehingga, Negara wajib memastikan, bahwa kesejahteraan seluruh Rakyat INDONESIA, telah menerima sebanyak mungkin faktor produksi, dan bukan berfokus pada kesejahteraan pribadi saja. 

Namun demi mewujudkan keadilan umum dalam ekonomi.

Tak sedikit orang menjadi egois dan merusak harmoni alam Masyarakat, dengan memupuk keserakahan, sebagai yang terpenting, terhebat, terkaya, terkuat, paling berkuasa, maha segala-galanya serta hendak memiliki dunia berikut seisinya, demi mengejar keuntungan pribadi.

Sementara untuk menghilangkan kemiskinan dan eksploitasi Masyarakat ekonomi sulit, perlu dilakukan produksi, atas dasar penggunaan, bukan hanya untuk keuntungan semata dan persaingan digantikan oleh rencana. 

Tanpa adanya hak milik pribadi atas produksi, menjunjung tinggi prinsip kesetaraan dan sederajat, serta kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi, yang diatur oleh Negara.

Melalui tidak adanya pembagian kelas sosial, mengutamakan kepentingan dan kekuasaan Negara.

Maka setiap orang bekerja untuk komunitas, berkontribusi pada kebaikan bersama, serta mempertimbangkan hak dan kewajiban orang lain. 

Yang tentunya sesuai dengan marwah serta moral umat manusia, sebagaimana sifat manusia adalah harmoni, dan sesuai dengan tatanan sosial Masyarakat.

Sebab sifat moral Manusia itu baik

Tentu sifatnya adalah sosial, sebagaimana asumsi dalam harmoni/ harmoni dalam tatanan sosial.

Sehingga seluruh lapisan masyarakat, dapat menikmati hak yang sama dalam menikmati kesejahteraan, kekayaan dan kemakmuran, yang adil dan beradab.

Lantas apa yang dibutuhkan untuk kesejahteraan Rakyat dan Negara Indonesia?

Dan bagaimana cara untuk menolong BANGSA dan NEGARA ini berbalik 180 derajat lebih bagus dari sekarang?

Menuju Perubahan, dibutuhkan Keberanian Militan didalamnya.

Tanpa itu semua, Republik Indonesia sebatas jalan di tempat saja.


Minggu, 16 Juni 2024

Perbedaan AGAMA, WARGA NEGARA dan PANCASILA

 Di tulis oleh Editor 



In Frame Sha Mantha

Photo Taken Mr Sensor Photography/Instagram @Ruang Kosong 303

 


Jepara, Indonesia - Pada dasarnya, dari seluruh Presiden di Republik Indonesia, tidak ada yang sadar dan tidak ada yang berani berbicara jujur, dengan seluruh warga negaranya.

Sehingga rakyatnya teradu domba dan tertimpa suatu ketidaktahuan, dalam membedakan arti topik bahasan diatas.

Tentang apa yang dimaksud dengan IDENTITAS WARGA NEGARA; AGAMA dan WARGA NEGARA.

Sedangkan maksud dari IDENTITAS WARGA NEGARA itu sendiri, tidak dilihat dari  agama yang dianut oleh seseorang yang menyandang atau ber-KEWARGA NEGARAAN, tetapi dibuktikan dari kewarganegaraannya masing-masing.


AGAMA 


AGAMA, kitabnya dikarang oleh sosok filosuf yang ingin mencontohkan sifat-sifat perilaku manusia baru, yang di adopsi dari cerita-cerita sejarah, tentang perjalanan manusia-manusia hebat di zamannya, yang sudah meninggal ribuan tahun silam.

Sedangkan dalam ajaran budi pekerti, menjadi manusia baik, ribuan tahun yang lalu hingga saat sekarang, hampir sama, tergantung dari situasi dan kondisi.

Banyak manusia salah mengerti

Sejatinya ajaran agama telah dibelokkan menjadi keyakinan persembahyangan, supaya hidup umat dan penganutnya diberikan rasa kasih oleh-Nya dan bisa mendapatkan rezeki serta masuk sorga.

Dunia ini nyata, dan semua ajaran dari kondisi alam, gurunya bukanlah dari Yang Maha Esa tetapi dari manusia-manusia yang lahir di dunia, terlepas pada bidang-bidang dan keahliannya.

Rasa kasih juga demikian, timbul dari perjalanan hidup yang diawali oleh pendidikan rasa dari orang tua, yang kemudian berkembang sesuai kondisi perjalanan hidup masing-masing individu, tanpa membawa-bawa nama-Nya.

Dunia Nyata 

Tidak ada rumah peribadahan kecuali dunia itu sendIri yang BERATAP LANGIT dan BERLANTAI BUMI.

Sehingga seluruh MANUSIA di Dunia, wajib menjalankan kewajiban hakikat yang baik, tanpa melanggar Undang-Undang dan hukum negara dalam setiap waktu tanpa batas dan di manapun saja di dunia ini.

Maka apabila bicara tentang sholat atau sembahyang, hal tersebut, tidak ada jawaban yang pasti di dunia fana ini.

Tetapi yang pasti, hanya hakikat.

Sebagaimana Hakekat Hidup Itu Kerja.

Maka sudah jelas, harus menjalankan HAKIKAT HIDUP, yaitu mau kerja mencari rezeki dengan kecerdasan yang dimiliki.

Berperadaban budaya agar disenangi dan dihormati manusia yang lain.

Rukun, saling bergotong royong, hingga pada akhirnya dapat saling berkasih sayang, dalam pertemanan maupun perjodohan.

Semua hal di atas, datangnya dari masing-masing individu itu sendiri, yang akan dijawab oleh semesta alam, melalui HUKUM SEBAB AKIBAT, tanpa membawa-bawa maupun menuntut tanggung jawab Yang Maha Esa.

Bagi manusia yang berkesadaran bahwa Yang Maha Esa itu ada, tentu akan berpikir. 

Di mana ya, keberadaan Yang Maha Esa?

Karena dunia itu nyata, tentunya juga Yang Maha Esa, tidak mau berbohong.

Maka cukup ketahui, yakini dan percaya.

Bahwa Yang Maha Esa itu ADA

Dan berwujud Alam Jagat Raya berisi ciptaan-Nya seperti;

UDARA; CAHAYA; ANGIN; AIR; API; BULAN; MATAHARI dan lain sebagainya.

Sebagaimana itu semua, oleh manusia, tidak dapat menciptakannya, selain Ia Sang Maha Kuasa.

Maka HILANGKAN HALUSINASI dalam persembahyangan yang tidak akan ada faedahnya.

Contoh berhalusinasi adalah mendengarkan ucapan diri sendiri yang isinya hanya permohonan berupa kalimat serta ucapan;

"MUDAH-MUDAHAN" atau "SEMOGA"

 

 FILUSUFI, PANCASILA dan GURU SEJATI 


PANCASILA di negeri ini pada dasarnya, mengajar warga negara Indonesia untuk berfelosufi, agar percaya adanya DUNIA dan Yang Maha Esa, itu nyata .

Sedangkan Filsuf/Filusufi/Filsafat adalah ilmu pengetahuan, cara berpikir secara menyeluruh terhadap masalah apapun, dalam tatanan kehidupan di DUNIA ini

Sebagai salah satu sumber keilmuan akal Logic yg ada di setiap orang.

Melalui keberadaan Sang Guru Sejati.

Sebab:

GURU SEJATI

Adalah pengalaman hidup sendiri, serta bukan "katanya" yaitu kesaksian yang berasal dari orang lain, kecuali ilmu pengetahuan yang disampaikan dan berasal dari para guru disekolah serta lingkungan cendekiawan.

Maka carilah GURU SEJATI setinggi mungkin, agar bisa menguliti teka teki/rahasia di dunia ini.


IDENTITAS WARGA NEGARA


Saudara-Saudara sebangsa dan setanah air yang bernaung dibawah NEGARA Republik INDONESIA.

Tentunya anda semua tau, bahwa kita semua ini hidup didalam dunia nyata yang bukan khayalan.

Penurunan KELUHURAN BUDI PEKERTI

( Bicara soal Adab ) dan PRAKTEK HAKIKAT.

Berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi di Masyarakat luas Indonesia.

Maka semua warga Negara Indonesia, wajib kembali kepada PANCASILA dan UUD'45 

( Pasal 33 ), maka: 

INDONESIA dapat Kembali Kepada Adab-Adabnya.

Sebagai dasar dalam ber-Negara, sehingga moral seluruh Warga Negara INDONESIA di penjuru dunia, dapat dikendalikan, bahkan menekan peredaran bisnis Narkoba.

Guna menuju Mercusuar DUNIA.

Dan Kita semua berkesempatan mengolah Sumber Daya Alam disekitar kita, bahkan mengolah limbah dan sampah organik sekalipun, sehingga kita tidak terpaku diseputar pertambangan saja.

Dengan mendukung program "Ekonomi Kerakyatan."

( Dalam mengembangkan potensi Usaha Kecil Mikro ) .

Sehingga BANGSA INDONESIA terbebas dari Belenggu "DIKTE PASAR BEBAS '

Melalui ketahanan Pangan Terintegritas

( Bangsa yang Mandiri )

Dimulai dari Desa, sebagai sumber penghasil Pangan.

Sejauh ini 

Pemerintah Indonesia telah merealisasikannya ke dalam berbagai program, sesuai alur, serta rule yang ada dan telah berjalan selama satu dekade terakhir dan akan terus berlanjut, hingga masa mendatang.

Sekarang tugas kita sebagai Warga Negara Indonesia yang berbangsa satu, Tanah Air Indonesia, wajib untuk saling bersinergi, semisal bekerja sesuai kecerdasan, maupun sesuai dengan keahlian tiap-tiap individu.

Dengan mengubah gaya hidup konvensional menuju ekologis ( pola hidup dan pola pikir ) sesuai pada Sumber Daya Manusia yang ada, terlebih dahulu.

Sementara JAGAT RAYA mewakili perwujudan Nyata dari zat MAHA KUASA

Telah menciptakan berbagai perwujudan diantaranya Hewan, Tanaman, Manusia dll.

Dari perwujudan-perwujudan tersebut, hanya manusia yang dianggap sempurna oleh sesama manusia, disebabkan bisa bicara menjalin komunikasi yang menciptakan perwujudan materi, keindahan dan aturan undang undang serta hukum negara diseluruh dunia.

Banyak manusia tidak sadar bahwa berbagai kelahirannya terdapat jenis yang sehat dan cacat, meskipun sebagian yang cacat juga bisa dianggap normal melalui berbagai kecerdasan dan kekuatan fisiknya.

Sumber kehidupan dari segala mahluk hidup didunia, dilahirkan dari percampuran sperma jantan dan kandung telur betina.

Adapun kesehatan dari sperma maupun kandung telur tergantung dari jenis makanan dan minuman yang masuk ditubuhnya.Jika sehat semua, akan melahirkan bayi yang sehat namun jika salah satunya terkontaminasi oleh virus, tentunya bayi dalam kandungan juga tidak sehat.

Singkatnya

Dalam kehidupan ini

Jiwa MANUSIA terdiri dari IQ; EQ; SQ dan TQ.

IQ adalah kecerdasan intelektual, sementara EQ merupakan kecerdasan emosional. TQ, kecerdasan transendental. 

EQ meliputi :

Kecerdasan emosional yang mencakup kesadaran diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat memotivasi diri dan mengendalikan dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri, empati dan kecakapan sosial.

SQ adalah ukuran kecerdasan dari segi spiritual

Akan terlalu panjang jikalau diceritakan detailnya.

Namun agar supaya sadar bahwa, perwujudan zat ESA itu kekuatan jagat nyata yang tidak bisa dikalahkan oleh manusia.

Contoh : UDARA; CAHAYA; AIR; ANGIN

Dan tanpa itu semua, tidak ada mahluk yang bisa hidup dan hal tersebut bukan berasal dari halusinasi dari cerita kitab agama.

 


MENTAL "TUAN" DI BALIK MEJA LAYANAN

  Ditulis oleh editor  In Frame Sha Mantha  Photo Taken Sohan Photography  Jawa Tengah - Aplikasi pelayanan publik ("Super Apps"),...