Ditulis oleh editor
In Frame: Sha Mantha
Jakarta - Pemerintah saat ini telah meletakkan dasar hukum yang berbahaya.
Kita tidak sedang menuju Peradaban Hukum yang lebih manusiawi.
Kita hanya sedang belajar mundur menuju era Korupsi menjadi kejahatan yang lebih sopan.
Ketika para Pejabat Negara mulai tidak dapat dipercaya.
Mereka bersekutu dalam satu barisan, merampok uang Rakyat untuk melanggengkan suatu kekuasaan.
Menciptakan jarak antara Pemerintah dan rasa keadilan Masyarakat kian terpaut.
Tanpa moral sebagai batas, kekuasaan cenderung culas, manipulatif, sekaligus berbahaya bagi "Keadilan serta Kemanusiaan."
Sehingga tidak ada ketegakan hukum serta keadilan di suatu Negeri.
Manakala citra buruk diharumkan, orang baik dan jujur dimusuhi.
Mengorbankan kebenaran untuk kepentingan, kelanggengan kekuasaan.
Tetapi juga, jangan sampai definisi orang jahat, "jadi bola liar" yang membungkam suara kebenarannya.
Dan bisa jadi pertanda sebuah Negara akan bubar.
Jika tanah Rakyat dirampas paksa, pajak terus menerus dinaikkan, dan hukum dijadikan alat permainan penguasa.
Itu bukan lagi Negara hukum.
Itu panggung opera kekuasaan
Rakyat dipaksa bertepuk tangan, sementara keadilan dikunci di belakang panggung layar.
Negeri pandai merawat lapar, tetapi gagap menyelaraskan akal.
Negara yang sehat, bukan terletak pada kepatuhan seluruh warga Negaranya, melainkan di Pemimpin yang tahan uji.
Dalam Politik, batas antara "Polisi yang tegas" dengan "Penguasa anti-kritik" kerapkali setipis benang.
Namun Rakyat butuh penangkal bahaya laten inkompetensi.
Sebab integritas membutuhkan intelektualitas.
Dan Masyarakat perlu mengevaluasi cara pandang mereka dalam memilih Pemimpin.
Orang baik saja tidak cukup, kita memerlukan orang baik yang cakap.
Korupsi tidak selalu lahir dari dari niat jahat Pemimpinnya, namun acapkali muncul dari ketidakmampuan seorang Pemimpin dalam menciptakan sistem anti-korup.
Melawan Korupsi bukan terpaku perihal menangkap begal, tetapi mencegah orang yang tidak kompeten memegang kemudi kekuasaan.
Pada akhirnya, inkompetensi menjadi pintu gerbang dan Korupsi sebagai tamu tak di undang yang masuk melaluinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.